Gejala dan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim (Kanker Serviks)

Oleh: Amrin Madolan Pada: 2016/05/14

Kanker leher rahim (serviks uterus/mulut rahim) merupakan keganasan yang paling sering ditemukan di kalangan wanita Indonesia. Kanker serviks mempunyai frekuensi relatif tinggi (25,6%) di Indonesia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, tiap tahun sekitar 15.000 kasus kanker serviks (leher rahim) ditemukan di Indonesia. Indonesia menjadi negara dengan jumlah kasus kanker serviks tertinggi di dunia. (health.kompas.com)

Dengan data tersebut di atas, maka kami merasa perlu untuk membagikan kepada Mitra Kesehatan Masyarakat tentang Gejala dan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim yang kami kutip dari sebuah sumber buku berjudul "Epidemiologi Penyakit Tidak Menular" (dr. M.N. Bustan).

Gejala Kanker Leher Rahim


Gejala dini yang dapat ditunjukkan oleh adanya kanker leher rahim adalah:
  1. Keputihan;
  2. Contact bleeding (perdarahan sewaktu bersetubuh);
  3. Sakit waktu koitus (bersetubuh);
  4. Terjadi perdarahan walaupun telah memasuki masa menopause.
Seorang wanita/ibu umumnya terdesak datang memeriksakan diri dengan keluhan perdarahan setelah persetubuhan (contact bleeding).

Tingkat kelainan akibat gangguan untuk terjadi kanker serviks (leher rahim) dapat berupa:
  1. Displasia ringan;
  2. Displasia sedang;
  3. Displasia penuh;
  4. Karsinoma insitu;
  5. Karsinoma invasive.
Dalam perjalanannya kanker leher rahim membutuhkan waktu yang cukup lama dari kondisi normal sampai menjadi kanker. Dalam penelitian secara epidemiologik dan laboratorik ada beberapa faktor yang berperan secara langsung maupun tidak langsung. Dalam pemantauan perjalanan penyakit, diagnosis displasia sering ditemukan pada usia 20 tahunan. Karsinoma in situ pada usia 25-35 tahun dan kanker serviks invasif pada usia 40 tahun.

Kanker Serviks/Leher rahim/Mulut Rahim
Kanker Serviks/Leher rahim/Mulut Rahim
Kondisi prakanker sampai karsinoma in situ (stadium 0) sering tidak menunjukkan gejala karena proses penyakitnya berbeda di dalam lapisan epitel dan belum menimbulkan perubahan yang nyata dari mulut rahim. Pada akhirnya gejala yang ditimbulkan adalah keputihan, perdarahan paska senggama dan pengeluaran cairan encer dari vagina. Lalu jika sudah menjadi invasif akan ditemukan gejala seperti perdarahan spontan, perdarahan paska senggama, keluarnya cairan (keputihan) dan rasa tidak nyaman saat senggama.

Penularan penyakit kanker ini dapat melalui hubungan sek5ul. Ditemukan tingginya kejadian kanker serviks pada perempuan lajang dan menikah pada usia muda. Terdapat pula peningkatan dua kali lipat pada perempuan yang mulai berhubungan sek5ul sebelum usia 16 tahun.

Perempuan menikah dengan seorang laki-laki yang pernah mempunyai istri yang menderita kanker mulut rahim, kejadian penyakit pada kelompok perempuan itu jadi meningkat.

Untuk pengobatan kanker mulut rahim ditentukan oleh berat ringan penyakit atau stadium. Umumnya pada stadium awal tindakan operasi menjadi pilihan pertama. Pilihan modalitas pengobatan lain seperti penyinaran dan pemberian sitostatika (kemoterapi) dilakukan pada kasus yang lanjut atau khusus. Ada juga tindakan pengobatan berupa gabungan yang terdiri dari operasi dan radiasi, operasi dan kemoterapi, radiasi dan kemoterapi, atau operasi, radiasi dan kemoterapi.

Deteksi Dini Kanker Leher Rahim


Deteksi dengan penyaringan (screening) dapat dilakukan dengan pemeriksaan pap-smear dan kolposkopi. Kolposkopi jarang dilakukan, karena memerlukan biaya yang lebih mahal, kurang praktis, dan memerlukan biopsi.

Bentuk pemeriksaan yang paling utama dan dianjurkan untuk deteksi dini kanker leher rahim adalah pemeriksaan Papaniculou smear (Pap smear). Pemeriksaan ini sederhana, cepat dan tidak sakit.

Pap-smear tidak hanya perlu dilakukan sekali seumur hidup tetapi perlu dilakukan secara berkala setelah wanita usia 40 tahun.

Telah mulai diperkenankan cara baru deteksi dini dengan cara inspeksi vagina dengan asam cuka (IVA). Cara ini dianggap lebih mudah, murah, dengan harapan dapat menjangkau seluruh masyarakat terutama kelompok masyarakat miskin. Walaupun tidak lebih cermat dari Pap-smear, cara ini cukup sederhana, hanya menggunakan olesan asam cuka untuk melihat kelainan pada leher rahim.

Bank Dunia mendukung pendapat bahwa program penapisan (screening) kanker leher rahim tidak hanya menyelamatkan jiwa tapi juga biaya yang di keluarkan jadi murah.

Melalui kesempatan ini penulis menyarankan kepada para pembaca, khususnya bagi wanita agar tidak sungkan untuk melakukan pemeriksaan dini untuk mendeteksi kanker leher rahim kepada petugas kesehatan terdekat agar jika terdeteksi adanya kanker leher rahim maka dapat memudahkan penanganan sebelum berada pada stadium lanjut.

Demikianlah yang dapat kami bagikan kepada Mitra Kesehatan Masyarakat, semoga dapat menambah wawasan untuk kita semua dan dapat memberikan manfaat. Jika anda merasa tulisan ini bermanfaat, maka bagikanlah melalui media sosial, mungkin ada teman kita yang membutuhkan informasi ini.
logoblog
logoblog

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar Anda Sangat Bermanfaat bagi Kami dan Pembaca Lainnya. Untuk mendapatkan pemberitahuan tentang komentar dan posting blog ini silakan ikuti blog ini di bagian bawah.