Peduli Kesehatan Lansia Bukti Rasa Cinta Kepada Orang Tua

Oleh: Amrin Madolan Pada: 2016/05/16

Kami yakin anda saat ini adalah salah satu dari sekian orang yang mencintai orang tuanya, hal ini dibuktikan dengan ketertarikan anda membaca artikel ini, sebagai wujud dari rasa cinta terhadap orang tua.
Banyak orang di sekitar kita yang mengatakan atau mengakui menyayangi orang tuanya, namun terkadang rasa sayangnya hanya sampai pada kata-kata belaka. Untuk menyayangi mereka bukan sekedar finansial saja melainkan pada segala aspek tentang orang tua, termasuk masalah kesehatan mereka. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini kami mencoba membagikan kepada Mitra Kesehatan Masyarakat tentang beberapa hal yang berkaitan dengan lansia dan lebih khusus pada kesehatan lansia yang merupakan masalah utama bagi lansia itu sendiri.

Pengertian Lansia


Lansia (Lanjut Usia) atau manusia usia lanjut (manula) adalah kelompok penduduk berumur tua. Golongan penduduk yang mendapat perhatian atau pengelompokan tersendiri ini adalah populasi berumur 60 tahun atau lebih. Umur kronologis (kalender) manusia dapat digolongkan dalam berbagai masa yakni masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa. Masa dewasa dapat di bagi atas dewasa muda (18-30 tahun), dewasa setengah baya (30-60 tahun) dan masa lanjut usia (lebih 60 tahun).

Kesehatan Lansia
Lansia
WHO mengelompokkan usia lanjut atas tiga kelompok yaitu:
  1. Kelompok middle age (45-59);
  2. Kelompok elderly age (60 - 74);
  3. Kelompok old age (75 - 90);

Beban Lansia


Salah satu ciri kependudukan abad 21 adalah meningkatnya pertumbuhan penduduk lansia yang sangat cepat. Pada tahun 2000 jumlah penduduk lansia di seluruh dunia mencapai 426 juta atau sekitar 6,8% total populasi. Jumlah ini diperkirakan akan mencapai peningkatan dua kali lipat pada tahun 20125 di mana terdapat 828 juta lansia yang menempati 9,7% populasi.

Peningkatan jumlah lansia ini terjadi baik di negara maju maupun negara sedang berkembang. Peningkatan penduduk lansia di negara maju tampak lebih cepat dibandingkan dengan yang terjadi di negara berkembang. Namun demikian lansia di negara berkembang secara absolut lebih banyak dibandingkan dengan negara maju. Hal ini menunjukkan bahwa masalah lansia tidak hanya di negara maju saja tetapi juga di negara berkembang.

Gejala menanya struktur penduduk juga terjadi di Indonesia. Penduduk lansia di Indonesia juga menunjukkan peningkatan absolut maupun relatif. Kalau pada tahun 1990 jumlahnya hanya sekitar 10 juta maka pada tahun 2020 jumlah itu diperkirakan akan meningkat menjadi sekitar 29 juta, dengan peningkatan dari 5,5% menjadi 11,4% dari total populasi.

Proses ketuaan berkaitan dengan proses degeneratif tubuh dengan segala penyakit yang terkait, mulai dari gangguan mobilitas alat gerak sampai gangguan jantung. Dengan demikian, golongan lansia ini akan memerikan masalah kesehatan khusus yang memerlukan bentuk pelayanan kesehatan tersendiri. Dengan usia lanjut dan sisa kehidupan yang ada, kehidupan lansia terisi dengan 40% masalah kesehatan.

Karakteristik Lansia


Beberapa karakteristik lansia yang perlu diketahui untuk mengetahui keberadaan masalah kesehatan lansia adalah:

Jenis kelamin, lansia lebih banyak pada wanita. 


Terdapat perbedaan kebutuhan dan masalah kesehatan yang berbeda diantara lansia laki-laki dan wanita. Misalnya lansia laki sibuk dengan hipertropi prostat, maka wanita mungkin menghadapi osteoporosis.

Status perkawinan; 


status masih pasangan lengkap atau sudah janda/duda akan memengaruhi keadaan kesehatan lansia baik fisik maupun psikologis.

Living arrangement; misalnya keadaan pasangan, tinggal sendiri atau bersama istri, anak atau keluarga lainnya.

  • Tanggungan keluarga; masih menanggung anak atau anggota keluarga.
  • Tempat tinggal; rumah sendiri, tinggal dengan anak. Dewasa ini kebanyakan lansia masih hidup sebagai bagian keluarganya, baik lansia sebagai kepala keluarga atau bagian dari keluarga anaknya. Namun akan cenderung bahwa lansia akan ditinggalkan oleh keturunannya dalam rumah yang berbeda.

Kondisi kesehatan lansia.


Kondisi umum; kemampuan umum untuk tidak tergantung kepada orang lain dalam kegiatan sehari-hari seperti mandi, buang air kecil dan besar.
Frekuensi sakit; frekuensi sakit yang tinggi menyebabkan menjadi tidak produktif lagi bahkan mulai tergantung kepada orang lain. Bahkan ada yang karena penyakit kronik memerlukan perawatan khusus.

Keadaan ekonomi.


  • Sumber pendapatan resmi; pensiunan ditambah sumber pendapatan lain kalau masih aktif. Penduduk lansia di daerah pertanian menunjukkan proporsi yang lebih besar dibandingkan dengan di daerah non pertanian. Lapangan kerja sektor pertanian cukup banyak menyerap tenaga kerja lansia, di samping sektor perdagangan dan sektor jasa.
  • Sumber pendapatan keluarga; ada tidaknya bantuan keuangan dari anak/keluarga lainnya atau bahkan masih ada anggota keluarga yang tergantung padanya.
  • Kemampuan pendapatan; lansia memerlukan biaya yang lebih tinggi, sementara pendapatan semakin menurun, sampai seberapa besar pendapatan lansia dapat memenuhi kebutuhannya.

Kesehatan Lansia


Masalah kesehatan lansia cukup luas dan bervariasi. Secara umum dapat disebutkan seperti terjatuh (accidental falls), easy fatiguability, acute confusion, chest pain, sesak (dyspnoe on exertion), oedema of the lower limbs, localized motor weakness, back pain, painful hip joint, urinary incontinence, altered bowel habits, impaired visual acuity, sakit kepala (headaches), gatal-gatal (pruritus), dan gangguan tidur (sleep disorder).

Selain masalah penyakit, kehidupan lansia tidak dapat melepaskan diri dari perubahan dan masalah psikologis. Berlangsungnya umur menyebabkann terjadinya perubahan-perubahan yang menuntut adanya penyesuaian diri secara terus menerus. Jika proses penyesuaian diri dengan lingkungan kurang berhasil maka berbagai masalah (Horlock, 1979), seperti:
  1. Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain;
  2. Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola kehidupannya.
  3. Membuat teman baru untuk menggantikan mereka yang sudah meninggal atau berpisah tempat;
  4. Mengembangkan aktivitas baru untuk mengisi waktu luang.

Perubahan pada Proses Menua


Secara ilmiah, berbagai proses ketuaan yang tidak bisa dihindari berlangsung berupa:

Perubahan fisik-biologis/jasmani:

  1. Kekuatan fisik secara menyeluruh dirasakan berkurang, merasa cepat capek dan stamina menurun;
  2. Sikap badan yang semula tegap menjadi membungkuk, otot-otot mengecil, hipotrofis, terutama di bagian dada dan lengan.
  3. Kulit mengerut dan menjadi keriput. Garis-garis pada wajah di kening dan sudut mata.
  4. Rambut memutih dan pertumbuhan berkurang.
  5. Gigi mulai rontok.
  6. Perubahan pada mataa: pandangan dekat berkurang, adaptasi gelap melambat, lingkaran putih pada kornea (arcus senilis), dan lensa menjadi keruh (katarak);
  7. Pendengaran, daya ccium dan perasa mulut menurun.
  8. Pengapuran pada tulang rawan, seperti tulang dada sehingga rongga dada menjadi kaku dan sulit bernafas.

Perubahan mental-emosional/jiwa:

  1. Daya ingat menurun, terutama paeristiwa yang baru saja terjadi;
  2. Sering pelupa/pikun; sering sangat mengganggu dalam pergaulan dengan lupa nama orang;
  3. Emosi mudah berubah, sering marah-marah, rasa harga diri mudah tersinggung.

Perubahan kehidupan sek*ual.


Penyakit lansia dapat meliputi:
  1. Gangguan pembuluh darah; dari hipertensi sampai strook;
  2. Gangguan metabolik: Diabetes Melitus;
  3. Gangguan persendian; artritis, encok dan terjatuh;
  4. Gangguan sosial: kurang penyesuaian diri dan merasa tidak punya fungsi lagi.

Penanganan Lansia


Kebijaksanaan penanganan masalah kesehatan lansia pada dasarnya ditujukan pada upaya menunda ketuaan biologis walaupun secara generatif (kronologis) sudah termasuk tua. Untuk itu perlu upaya-upaya yang menyangkut peningkatan gizi keluarga, pencegahan penyakit degeneratif dan penyediaan pelayanan kesehatan yang sesuai dengan masalah kesehatan lansia.

Masalah lansia bukanlah masalah kesehatan semata, bahkan merupakan masalah sosial ekonomi. Karena itu perlu pendekatan multidisiplin mengingat berbagai isu yang berhubungan dengan lansia seperti:
  1. Perlunya menyiapkan sarana pelayanan bagi lansia;
  2. Perlunya adaaya lembaga yang dapat mengayomi para lansia untuk dapat bekerja.
  3. Diperlukan adanya jaminan penunjang biaya kesehatan untuk lansia;
  4. Pemikiran untuk kondisi sosial keluarga yang mendukung kehidupan lansia seperti extended family daripada pengadaan nursing home atau rumah jompo.

Salah satu pendekatan utama yang penting adalah pendekatan keluarga. Dianjurkan beberapa hal dalam menghadapi lansia:
  1. Menghormati dan menghargai orang tua;
  2. Bersikap sabar dan bijaksana terhadap perilaku usia lanjut;
  3. Memberikan kasih sayang, menyediakan waktu dan perhatian;
  4. Jangan menganggapnya sebagai beban;
  5. Memberikan kesempatan untuk tinggal bersama;
  6. Mintalah nasihat pada mereka dalam peristiwa-peristiwa penting;
  7. Mengajaknya dalam acara-acara keluarga;
  8. Dengan memberi perhatian yang baik terhadap orang tua, maka kelak anak-anak kita akan bersikap sama kepada kita;
  9. Membantu mencukupi kebutuhannya;
  10. Memeriksakan kesehatan secara teratur.
Sumber: Epidemiologi Penyakit Tidak Menular
dr. M.N Bustan
2007

Demikianlah sekilas informasi yang dapat kami bagikan kepada Mitra Kesehatan Masyarakat, semoga dapat menambah wawasan kita bersama.
logoblog
logoblog

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar Anda Sangat Bermanfaat bagi Kami dan Pembaca Lainnya. Untuk mendapatkan pemberitahuan tentang komentar dan posting blog ini silakan ikuti blog ini di bagian bawah.