Cerita Inspirasi dari K-Link Indonesa yang Membuat Haru

Oleh: Amrin Madolan Pada: 2016/10/19

Cerita Inspirasi dari K-Link
Cerita Inspirasi dari K-Link
Seorang guru yang sudah renta, berjalan santai bersama salah satu muridnya di sebuah taman. Sesekali terdengar tawa diantara kedua sahabat tersebut di celah-celah obrolan mereka. Walau berbeda usia jauh, namun mereka nampak bahagia. Inilah yang menjadikan persahabatan antara guru dan murid ini terlihat sangat istimewa. 

Tengah asik berjalan, tiba-tiba mereka melihat sepatu yang rusak dan usang. Sepatu tersebut tergeletak begitu saja dengan beberapa peralatan kebun di sekelilingnya, sang murid mempunyai ide yang langsung disampaikan kepada gurunya sambil tersenyum. 

Guru bagaimana kita kerjain saja tukang kebun itu, kita sembunyikan sepatu ini kemudian kita bersembunyi di belakang pohon itu? Sewaktu tukang kebun ini datang pasti dia terkejut. Ayo kita liat bagaimana muka tukang kebun itu jika tengah cemas! Heheheh, ujar seorang murid semangat. 

Guru yang bijak dan baik hati itu tidak ingin menuruti ide murid itu, lalu ia menjawab. 

Anakku, tidak baik kita bersenang-senang dengan mempermainkan orang lain. Apalagi orang tersebut sudah jelas kesusahan, kamu orang yang mampu tidak ada salahnya membantu orang yang tengah mengalami kesusahan. Guru sarankan kepada kamu untuk memasukan sejumlah uang ke dalam sepatu tukang kebun itu, kemudian lihat bagaimana muka tukang kebun itu, sanggah guru pada muridnya. 

Sang murid pun tertegun dengan usulan yang gurunya berikan, lalu dengan sigap ia memasukan sejumlah uang ke dalam sepatu tukang kebun itu dan mereka berdua bersembunyi di belakang pohon untuk melihat apa yang akan terjadi. 

Tak lama berselang, datang seorang pria berumur sekitar 40 tahun dengan baju yang basah karena keringat setelah bekerja di kebun yang panas sambil membersihkan bercak-bercak tanah ditubuhnya. Pria itu tampak lelah setelah bekerja. 

Saat memasukan kaki ke dalam sepatunya, ia merasakan ada sesuatu di dalam sepatunya. Ia coba keluarkan sesuatu di dalam sepatunya tersebut, tukang kebun itu terkejut ternyata benda asing yang ada di dalam sepatunya adalah sejumlah uang. Saat memeriksa sepatu yang sebelah lagi, ternyata ada uang yang jumlahnya lebih banyak, si tukang kebun terkejut sampai mukanya terlihat pucat. 

Sang tukang kebun menatap satu per satu, lembar per lembar uang yang ada di dalam sepatunya, seolah ia tidak percaya apa yang sudah terjadi. Ia menoleh ke sekeliling taman seolah mencari orang disekitarnya, mungkin ingin bertanya siapa orang dermawan yang sudah menaruh sejumlah uang untuk dirinya, namun ia hanya seorang diri di kebun itu tanpa ada orang lain di sekelilingnya. 

Dengan terlunta-lunta ia memasukan uang ke saku celananya sambil berlutut dan memandang langit, tak berapa lama sang tukang kebun itu menangis haru. Ia berteriak dengan suara yang kencang, mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT. 

Aku bersyukur kepada-Mu, Ya Allah, Tuhanku. Wahai Yang Maha Tahu, saat ini istriku tengah sakit dan anak-anaku kelaparan, mereka belum aku berikan makan hari ini. Engkau telah menyelamatkan aku, istriku dan anak-anakku dari kesulitan yang menerpaku ya Allah, doa sang tukang kebun sambil menangis. 

Tukang kebun itu nampak sangat terharu dengan apa yang telah terjadi kepadanya, sang murid yang tadi ingin berbuat picik pada sang tukang kebun itu pun terlihat sangat terharu, sampai tak kuasa ia bercucuran air mata. Sang guru yang mengajarkannya untuk memberi sejumlah uang kepada tukang kebun itu kembali memberikan petuah kepada muridnya. 

Bukankah lebih bahagia seperti ini? Kita bahagia dengan membuat orang lain bahagia, tanpa mengusik orang tersebut dengan hal-hal yang kamu anggap lucu, ujar sang guru. 

Sang murid yang terus menangisi kejadian yang telah dilihatnya kemudian menjawab apa yang ditanyakan gurunya. 

Hari ini saya mendapat pelajaran yang tidak mungkin saya lupakan seumur hidup saya. Sekarang saya baru memahami makna dari kalimat yang dulu belum saya pahami yaitu, ketika kita memberi, kita akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih banyak daripada kita yang mengambil, tutur sang murid sambil terisak. 

Sang guru yang terlihat bangga dengan muridnya itu melanjutkan nasihatnya kepada sang murid. 

Sekarang ketahuilah, bahwa sebuah pemberian itu bermacam-macam. Memaafkan kesalahan orang di saat kita mampu membalasnya, itu suatu pemberian. Mendoakan teman dan saudaramu tanpa sepengetahuan mereka itu pemberian. 

Berusaha untuk berbaik sangka kepada orang dan menghilangkan prasangka buruk kepada orang, itu pemberian. Menahan diri dari membicarakan aib saudaramu dan temanmu, itu juga pemberian. Semua itu merupakan pemberian Allah agar kesempatan memberi tidak hanya dibuat oleh orang-orang yang berada saja, jadikan semua ini pelajaran sahabatku! (Dr. H. Md Radzi Saleh)
logoblog
logoblog

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar Anda Sangat Bermanfaat bagi Kami dan Pembaca Lainnya. Untuk mendapatkan pemberitahuan tentang komentar dan posting blog ini silakan ikuti blog ini di bagian bawah.